Gaya Hidup dan Hidup Gaya

Hampir setiap hari kita lihat dan dengar berita-berita nasib menyedihkan,yang menimpa para politisi dan pejabat yang korupsi,prostitusi artis,ataupun masyarakat awam dengan bermacam-macam masalah.Kata para psikolog dan para ahli dari berbagai profesi,katanya hal itu akibat korban gaya hdup mereka sendiri.Ini berarti bahwa istilah gaya hidup oleh kebanyakan masyarakat dipersepsikan sebagai hal yang negatif.Istilah gaya hidup sudah mengalami penyempitan makna (negative),yang dalam ilmu bahasa disebut sebagai makna peyoratif,yaitu maknanya menjadi negatif.Gaya hidup cenderung diartikan sebagai bentuk prilaku seseorang yang bermewah-mewah,glamour,mobil mewah,rumah bagus,dan bentuk-bentuk lain yang berhubungan dengan serba mewah,mahal dan meterialistis.Seperti halnya yang dikatakan oleh artis Maia Estianty/Mia dalam jumpa pers di Divhumas Polri beberapa waktu yang lalu,dia mengatakan bahwa prostitusi artis adalah jalan gelap,demi gaya hidup.Kalimat senada juga sering dikatakan para tokoh ( public figure ) bahwa korupsi di negeri ini dipicu oleh gaya hidup para koruptor itu sendiri,dan tentu saja keluarganya.

Istilah gaya hidup (Inggeris ;life style) sebenarnya pertama kali dicectuskan oleh Alfred Alder,seorang psikolog Austria pada tahun 1929,dan mulai banyak digunakan orang pada tahun 1961.Yaitu wujud dari pemenuhan sebagian kebutuhan sekunder manusia yang bisa berubah sesuai dengan zamannya atau sesuai dengan keinginan seseorang untuk mengubah gaya hidupnya.Kalau demikian halnya,berarti sebenarnya semua orang mimiliki gaya hidup sesuai kehendak masing-masing.Jadi tidak bisa disalahkan dan tidak perlu dipermasahkan apabila seseorang mimiliki gaya hidup tertentu asalkan sesuai dengan kemampuannya/ proporsional.Misalnya,seorang guru,ustad,pejabat, seniman,politisi,artis atau yang lainnya, mereka memiliki gaya hidup masing-masing sesuai selera dan kemampuannya.

Gaya hidup menurut persepsi masyarakat pada umumnya adalah gaya hidup yang terkait dengan hal-hal yang bersifat material yaitu,kemewahan harta benda yang dinikmati oleh pemilikinya sebagai bentuk gaya hidup mereka.Yang sering menjadi masalah adalah apabila seseorang bergaya hidup tidak sesuai dengan kemampuanya atau tidak proporsional.Hal ini bisa terjadi karena orang yang bersangkutan tidak bisa memilah dan memilih mana yang merupakan kebutuhan dan mana yang sekedar keinginan.Banyak orang berusaha memperoleh harta hanya untuk memenuhi keinginannya atau sekedar dorongan hawa nafsu belaka.Hal ini sesuai dengan yang dikatakan oleh Imam Al-Ghazali dalam bukunya Ihya Ulum Al-Din dikatakan bahwa di dunia ini tidak ada yang lebih besar kecuali hawa nafsu.

Seseorang yang dalam memenuhi kebutuhan harta benda melampaui batas kewajaran dan di atas kemampuannya tentu akan menimbulkan masalah pada dirinya sendiri dan juga pada lingkungannya.Inilah yang dalam pribahasa kita disebut sebagai lebih besar pasak daripada tiang.Bentuk prilaku seperti ini bukanlah sebagai bentuk gaya hidup yang benar,tetapi bisa disebut sebagai hidup gaya. Artinya bergaya hidup tidak sesuai dengan kemampuannya tetapi bergaya hidup seperti orang yang memiliki kemampuan di atasnya misalnya,orang miskin ingin bergaya seperti orang kaya. .Akibatnya sering menghalalkan segala cara seperti,korupsi,menipu,illegal logging,jual diri,pemalsuan ijazah,dan lain-lain demi untuk memenuhi gaya hidupnya,yang sebanarnya nafsunya.

Minimal ada empat jenis gaya hidup seseorang terkait dengan harta bendanyanya yaitu, pertama, orang kaya (berharta) yang bergaya hidup mewah sesuai dengan kemampuan kekayaanya.Ini pun akan menjadi tidak baik dan hina apabila dalam hatinya ada rasa takabur,pamer, ataupun sombong.Akan menjadi baik dan mulia apabila telah melaksanakan kewajiban sosial kemasyarakatan terkait harta bendanya seperti,zakat,infak,sedekah,pajak. Berniat memberi contoh kepada orang lain bahwa kita itu harus mau bekerja keras dan halal untuk mendapatkan harta yang cukup dan mencukupi agar bisa membantu orang lain yang masih kekurangan.Dia memiliki private social responsibility (PSR) sehingga akan dikenal oleh masyarakatnya sebagai orang kaya yang dermawan.
Kedua,orang kaya (berharta) yang bergaya hidup sederhana dan bersahaja.Inilah orang yang bisa mengendalikan nafsunya,hanya memenuhi kebutuhan bukan keinginan,selalu berusaha berbagi kepada orang lain yang membutuhkan.Berniat memberi contoh kepada kepada orang lain bahwa hidup itu tidak harus bermewah-mewah.Hidupnya sederhana,tidak rumit, damai, istiqomah,selalu bersyukur,tidak tersiksa oleh keinginan yang tidak tercapai karena memang tidak pernah menginginkan yang bukan kemampuannya. Secara ekonomi bisa dikatakan lemes ning teles (Jw),bukan garang tetapi garing (Jw).Orangnya tampak sederhana,tidak seperti orang kaya, tetapi memiliki banyak uang dan harta.Tingkat penghasilan kota tetapi gaya hidup desa. Orang seperti ini bisa disebut sebagai orang yang sederhana dalam keberadaan.
Ketiga,orang miskin (tidak berharta) yang bergaya hidup apa adanya.Dia tidak mengada-ada,mampu mengendalikan hawa nafsu,tidak tersiksa oleh keinginan dan hawa nafsu,tidak pula meminta-minta.Inilah orang yang jujur dengan dirinya,menjalani hidup ini dengan sederhana, damai,penuh rasa syukur,rendah hati,dan istikomah.Akan tetapi tetap selalu ikhtiar dengan sungguh-sungguh dan apapun hasilnya tetap tawakal,menerimanya dengan senang hati tanpa pernah mengeluh..Orang seperti ini bisa disebut sebagai orang yang berada dalam kesederhanaan.
Keempat,orang miskin (tidak berharta) ingin bergaya hidup seperti orang kaya.Gaya hidupnya bermewah-mewah tetapi kemewahan yang semu,tidak sesuai dengan kenyataan. Keuangannya lebih besar pasak daripada tiang.Orang yang mengetahui kondisi sebenarnya bisa menertawakan.Merasa tersiksa bila keinginannya belum terpenuhi.Sering menghalalkan segala cara demi mengejar gengsi dan citra diri,yang justru bisa membuatnya jatuh ke lembah kehinaan baik di mata manusia maupun Allah .Hidupnya ngongso dan gege mongso (Jw) yaitu,ingin memperoleh sesuatu yang belum saatnya diperoleh tetapi hanya dorongan hawa nafsunya yang tidak dikendalikan.Orangnya suka berhutang demi untuk memenuhi keinginan sehingga hutangnya ada dimana-mana.Orang sering menyebutnya dengan istilah garang tetapi garing (Jw),tampak seperti orang kaya tetapi hanya semu karena dibungkus kepalsuan.
Gaya hidup yang terakhir ini sangat berbahaya bagi kehidupan berkeluarga ,bermasyarakat,bahkan bernegara. Orang seperti inilah yang bisa disebut sebagai orang yang hidup gaya.Atau tepatnya bergaya hidup gaya dan salah memilih gaya hidup.Dengan demikian jelas bahwa gaya hidup berbeda dengan hidup gaya.Setiap orang pasti memiliki gaya hidup masing-masing.Hidup gaya hanyalah salah satu jenis dari bentuk gaya hidup.Selanjutnya,gaya hidup manakah yang akan kita pakai,tentu sesuai dengan kehendak dan pilihan kita masing-masing.Akan tetapi jangan sampai kita bergaya hidup salah atau hidup gaya yaitu.gaya hidupnya hanya untuk bergaya. Sebagai bangsa yang beragama tentu pilihan gaya hidup kita harus sesuai dengan kaidah-kaidah agama dan norma serta budaya yang berlaku di masyarakat dan negara kita.
Allah telah mengingatkan kita tentang kemewahan dalam firmannya,yang artinya : “Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.”(al-Hadiid,ayat 20).Ada juga ayat lain tentang prilaku berlebihan,yang artinya,:”Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.”( al-A’raaf, Ayat 31).
Pada peringatan Hari Kebangkitan Nasional tahun ini telah dicanangkan Sapta Prasetya Remaja Indonesia,Kebangkitan Remaja Indonesia menuju terwujudnya generasi Indonesia Emas 2045,yang dibacakan pada upacara-upacara peringatan hari Kebangkitan Nasional bulan yang lalu. Butir ke-7 dari Sapta Prasetya tersebut berbunyi,“Kami Remaja Indonesia berjanji dengan sepenuh hati bahwa; kami siap menolak gaya hidup yang tidak sesuai dengan prinsip kesederhanaan,kebermanfaatan,dan kemuliaan.”
Semoga bermanfaat,Aamiiin.

Leave a Reply

Your email address will not be published.